Anonim Part II




Berkat Sahabat


Ini kisah persahabatan dua anak manusia. Yang seorang adalah putra presiden, yang lain pemuda rakyat jelata bernama Pono. Persahabatan ini sudah terjalin sejak mereka masih di bangku sekolah. Pono punya kebiasaan yang kadang menjengkelkan. Apa pun peristiwa yang terjadi di depannya selalu di anggap positif. “itu baik!” katanya senantiasa.
Hari itu seperti yang sering mereka lakukan, Pono menemani sahabatnya berburu.
Tugasnya membawa senapan dan mengisi peluru agar selalu siap digunakan. Entah kenapa, barangkali belum terkunci secara sempurna, setelah diserahkan kepada sahabatnya senapan itu meletus. Akubatnya cukup fatal. Ibu jari putra presiden terkena terjangan peluru dan putus. Melihat itu tanpa sadar Pono berkomentar, “itu baik!” kontan sahabatnya naik pitam. “bagaimana kau ini! Jempolku putus tertembak, malah dibilang baik. Berengsek!” agaknya, kali ini kelakuan Pono tak termaafkan. Ia terjebak ke penjara.
Beberapa bulan kemudian, sang putra presiden kembali pergi berburu ke Afrika. Malang, ia terseeat di hutan lebat dan di tangkap suku primitif yang masih kanibal. Malam harinya, dalam keadaan terikat ia dibakar untuk disantap ramai-ramai. Anehnya, mendadak ia di bebaskan. Belakangan ketahuan, suku tersebut pantang memangsa makhluk yang organ tubuhnya tidak lengkap.
Nasib baik itu membuat sang putra presiden termenung. Ia teringat kembali peristiwa ketika jempolnya putus tertembak lantaran ulah Pono. Ia kemudian menemui Pono di penjara, “Ternyata kau benar. Ada baiknya jempolku tertembak ,” katanyasambil menceritakan peristiwa yang baru saja di alaminya di Afrika. “Aku menyesal telah memenjarakanmu.”
“Oh, tidak! Bagiku ini baik!”
“Bagaimana kau ini? Memenjarakan teman kau bilang baik?”
“Kalau aku tidak di penjara, pasti saat itu aku bersamamu.”
Kisah satir ini mengingatkan kita pada pernyataan bodoh Randolph Bourne, intelektual Amerika yang juga anak didik Jhon Dewey. Katanya, seorang teman itu memeng dipilih untuk kita berdasarkan perasaan tersembunyi, bukan oleh kehendak sadar kita si manusia.
Sumber : Intisari, Desember 2005

Komentar

Postingan Populer