Istri dari Masa Depan
"Mas, misalnya dulu kita papasan di lorong kampus terus aku nyapa; "Hai, kenalin, aku istri masa depanmu" responmu apa?" "Paling aku mbatin; "ini orang salah makan apa?" gitu paling." "Kok jahat?" "Lha mikir ga pas itu pacarmu gimana? Pas itu aku juga punya pacar to?" Lalu kami terkekeh. Saya paham. Pertanyaan saya memang bodoh, tapi suami saya memang kelewat realistis. Dia baik sebagai partner hidup, tapi bukan partner yang menyenangkan buat berandai-andai. Ya sebagai istri tentu saya menerima, toh dia menjadi penyeimbang jalan pikiran saya. Kadang saya berandai kelewat batas, sering ditepisnya dengan kalimat simple dan apa adanya. Jika memang dari dulu saya tahu dia jodoh saya, tentu saya tidak akan buang waktu, tentu dia juga begitu. Tapi realitanya, titik ini dicapai setelah jalan yang berliku. Kita bertemu di waktu yang Tuhan tentukan saat kami mampu. Jika saja waktu itu kami benar papasan di lorong k...





