5 Tahun Erupsi Merapi: Merapi Tak Pernah Ingkar Janji

Photo by: @bango_jinak
Throwback is something that I used to hate, but for the sake of Merapi's victim in 2010 ... I'll tell you something about it.

Yogyakarta, 25 Oktober 2010

Keinget banget hari itu, di tahun pertama saya mengecap bangku perkuliahan, kelas pagi adalah hal biasa yang mahasiswa baru hadapi, padahal materi tengah semester sudah mulai habis tuntas dibahas. Alasan utama mahasiswa baru seperti saya untuk datang ke kelas adalah untuk meminta sesuap kisi-kisi dari dosen dan sebongkah kode-kodean dari mahasiswa yang lain. Hari itu berjalan biasa saja, yang saya tahu beberapa hari terakhir Gunung Merapi mengalami erupsi, informasi tentang hal ini saya dapat dari televisi, juga saya aktif pantau di twitter dan selalu menghubungi Mama saya. Kebetulan Mama saya besar dan lahir di daerah Jalan Kaliurang, tepatnya di Km. 17 Tepat di depan posko evakuasi paling bawah PMI. Jadi, warga desa-desa yang rawan terkena lahar material dan awan panas dievakuasi ke posko depan rumah.

Sepulang kuliah, saya jalan kaki sama temen sekamar saya, Anissa. Kalo ga salah inget, saya lagi jutekin dia yang saya juga lupa karena apa. Saya paling ga bisa lama-lama sesebelan sama dia, ya mau gimana? Orang sekamar gitu, kalo ga ngobrol sama dia saya mau ngobrol sama siapa?

Malemnya sekitar pukul 22.00, ketika si Anis udah tidur duluan, sementara saya ... menatap nanar kearah layar televisi. The breaking news is so heart-breaking.

Abu Vulkanik sudah mencapai Jalan Kaliurang Km. 19

Begitu kira-kira bunyi breaking news disalah satu stasiun televisi. The worst thing that night adalah suara ambulan yang mondar-mandir didepan kos saya. Setiap ada ambulance lewat jantung saya mau copot, panik. I was like crying. Visual di TV lebih parah lagi, rumor sana sini, beberapa orang berwajah abu-abu penuh kepanikan diwawancarai. Jujur saya seketika membayangkan simbah saya, pakdhe, budhe dan beberapa sepupu saya yang masih kecil-kecil dipenuhi abu dan hanya bisa membawa badan tanpa harta benda lainnya. Hal yang saya ingat setelah itu adalah nelfon mama saya, dengan sedikit mencoba mengurangi suara bergetar saya bertanya tentang keadaan disana. Mama saya juga terdengar sama resahnya, walau beliau bilang simbah sekeluarga sudah turun sampai gejayan, ditempat yang aman.

The second breaking news sounds like the end of the world.
Diperkirakan besok pagi abu vulkanik akan turun sampai kota Jogja.

Mama saya double resah, tiba-tiba nyuruh saya pulang padahal besok saya masih ada kelas. Tiba-tiba saya nyesel kenapa hari ini harus saya habiskan marahan buat sama Anis? Kenapa hujan abu turun sebelum saya datang ke Korean day besok lusa? Sesederhana itu pemikiran gadis usia 19 tahun. Seketika saya ngerasa kecil, ga ada apa-apanya. Powerless.

Yogyakarta, 26 Oktober 2010

Saya enggak inget gimana saya jalan ke kamar mandi, kemudian mandi dan ambil air wudhu padahal kamar mandi kos saya itu di luar, yang saya tau langit udah mulai terang, abu vulkanik udah mulai kelihatan bentuknya, tapi tidak separah dan selebay yang saya bayangkan sih, Saya masih tetep bersikukuh buat jalan kaki menuju kampus saya menggunakan slayer seadanya. Sampai kampus, saya ketemu Mete, sabahat saya yang seorang santri pondok pesantren di daerah Krapyak. Saya inget banget, Mete ngasih saya masker yang dia dapet gratis dari pengurus pondoknya. Kemudian seharian itu enggak ada satu kelas pun yang ada dosennya, kecuali kelas bahasa Arab sore hari jam 4.

Innalilahi. Pada hari itu juga, Mbah Marijan dikabarkan meninggal dirumahnya di Kinahrejo. I was shock and sad.

"Merapi tidak pernah ingkar janji mungkin karena dia tidak pernah berjanji. Tapi, Mbah Marijan berjanji, untuk tidak pergi dari Merapi. Janji yang dia tepati."

Yogyakarta, 26 Oktober 2015

Dini hari tadi #5thErupsiMerapi menjadi trending topic worldwide berkat diangkatnya materi ini oleh Jogja Update. Hal itu juga merupakan cikal bakal saya kenapa ngepost hari ini. Seperti caption yang saya sampaikan di instagram,

"Gunung Merapi itu seperti cinta. Terlalu indah untuk disalahkan. Gunung Merapi juga seperti rindu. Perasaan luar biasa yang menyesakkanmu. Tapi dia juga seperti ilmu, membukakan pikiranmu lebih luas lagi, tentang kepasrahan kepada Sang Ilahi."

Saya yakin benar banyak mereka yang mengalami langsung erupsi Merapi tahun 2010. Banyak cerita yang lebih menarik atau mungkin lebih dramatis. Tapi yang saya ingin sampaikan disini adalah, saya minta keikhlasan kalian, para pembaca untuk mengirimkan doa kepada korban erupsi Merapi tahun 2010.  Kenangan para korban selama hidup akan tetap indah dan tangguh sebagaimana Merapi berpijak kepada bumi. Semoga amal ibadanya diterima disisiNya.

Allahumma Aamiin.

P.S Click Here for the real story, Saya nangis bacanya :

Komentar

Postingan Populer