Risalah Hati
Walau masih tetep fiksi tapi tetep beda dari short story Without you, kali ini aku nyoba bikin short story yang based on the song. Well, kenapa pilih 'Risalah Hati-Dewa 19"? karena entah kenapa tiap denger lagu ini tuh kaya aku terlempar di suatu waktu, seperti ikut merasakan apa yang di sampaikan lagu ini (asekdah). Aku mau bikin pengakuan nih, sebenernya aku mendua sih, aku punya blog lain, umm .. kalo aku ga nyampah di sini ya berarti di Sekotak Pelangi. Fyi.
Balik lagi ke cerpen, enggak usah cas cis cus deh. klik media player di kanan atas and ..
Enjoy this story :)
Risalah Hati
(Based on the song Risalah
hati-Dewa 19)
Setelah tiga tahun berlalu, kisah terakhirku dengan seorang
pria di masa SMP, akhirnya untuk malam ini ada yang mengajakku keluar untuk
sekedar makan bersama. Ada perasaan senang membuncah dalam dadaku, walau hanya
makan biasa. Iya, biasa. Bagaimana bisa aku mengatakan bahwa itu istimewa?
Hanya dinner di bawah gemerlap lampu
kota, di pinggir jalan kota Bandung yang ramai, di depan sebuah pusat
perbelanjaan terbesar kota ini. Dimana istimewanya? Tapi, mengapa aku merasa?
Hari-hari setelah itu disibukan dengan deretan blackberry messanger-mu. Walau secara
formal kita belum bisa di sebut berpacaran karena you-know ada yang disebut sebagai ‘penembakan’ sebelum proses itu.
Tapi aku merasakannya. Merasa.
Entah kau.
Setiap BBM-mu atau ajakan keluarmu membuatku di atas awan.
Semua kata ‘kangen’mu membuatku berada dalam titik puncak kehebatan rasa suka
cita. Jika itu tujuanmu, mengapa hanya aku yang merasa?
Sejuta pertanyaan muncul dibenakku.
Mengapa tidak kunjung tiba? Setidakpantas itukah aku untuk
berada di sampingmu? Kadang aku merasa menjadi sesuatu yang hanya sedikit kau
tengok keberadaannya. Senyum yang kau berikan. Usapan tanganmu di kepalaku.
Pelukanmu di pantai kala itu. Cinta sepihak-kah aku?
“Hidupku tanpa cintamu, bagai malam tanpa bintang. Cintaku tanpa sambutmu, bagai panas tanpa hujan, jiwaku berbisik lirih, aku harus milikimu..”
Di suatu waktu aku mempertanyakan ketidakadilan hatimu pada
malam itu. Di depan rumah biruku. Tepat lima bulan sejak ajakan keluar
pertamamu.
“Aji, kita selama ini, jalan bareng, ketawa bareng, lewatin
hari bareng-bareng, hubungan kita apa sih?”
“Kenapa tiba-tiba ngomongin itu sih, din?” katamu dengan
gelisah.
“Ya, semua yang kamu kasih ke aku, ga bisa aku rasain kalo
kita cuma ‘sahabatan’ aja loh, ji”
“Dina sayang, aku nyaman gini, apa sih bedanya? Kalo udah
jadian, terus apa?” katamu dengan ketus.
Aku terdiam.
Setelah itu, aku tidak berani mempertanyakan status kita.
Bagaimanapun aku bertahan karena aku yang merasa. Jadi, mungkin aku berdiri
untuk mempertanggung jawabkannya. Hari-hari setelah itu aku masih terus
berharap padamu. Walau, entah kenapa setelah itu itensitas BBM kita makin
melemah. Kadang kau hilang tanpa alasan yang jelas, kemudian kembali dan
mengambil alih seluruh hatiku. Kau masih semanis dahulu. Dan aku masih selalu
merasa.
“Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta kepadaku. Beri sedikit waktu, biar cinta datang karena terbiasa ..”
Biarkan aku, ji. Ijinkan aku membuat kamuflase dirimu dalam hatiku.
Cukup nikmati saja cintaku yang seperti ini.
“Simpan mawar yang kuberi, mungkin wanginya mengilhami. Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu. Sebelum kau ludahi aku, sebelum kau robek hatiku ..”
Sebulan kemudian. Ketika aku keluar pusat perbelanjaan
terbesar kota Bandung. Tepat dibawah kelap-kelip kota. Aku melihat sosokmu.
Ditempat yang sama, suasana yang sama. Sedikit berbeda. Mungkin tendanya?
Mungkin kursi kayunya? Atau penjual kaki lima yang ada di situ? Ah, tidak. Posisimu
tetap sama di samping kanan. Tetapi aku di sebrang jalan. Posisi samping kirimu
yang dulu milikku, duduk seorang wanita. Wanita yang bukan aku, yang kemudian
kau kecup keningnya dan tertawa.
Pandanganku kabur. Airmata turun.
Hatiku robek. Sakit.




Komentar
Posting Komentar